Di sebuah sudut Dusun Tulelala, Desa Ingguinak, Kabupaten Rote Ndao, hiduplah seorang pria bernama Arion Landak. Sebagai seorang penyandang disabilitas fisik sejak kecil, Arion tumbuh dalam bayang-bayang rasa rendah diri. Selama bertahun-tahun, ia merasa asing di tengah lingkungannya sendiri. Meski mewarisi keterampilan pandai besi yang mumpuni dari keluarganya, Arion memilih untuk menutup diri.
Sehari-hari, ia hanya bekerja di sebuah bengkel sederhana yang sunyi. Berbekal peralatan manual seadanya, ia bergulat dengan api dan besi, jauh dari hiruk-pikuk sosial. Baginya, hidup saat itu terasa seperti berjalan di lorong panjang yang gelap tanpa ujung cahaya. Ia didera kekhawatiran bahwa orang lain hanya akan melihat keterbatasan fisiknya, bukan kualitas karyanya. Ketakutan akan stigma membuat Arion enggan mempromosikan hasil kerjanya, apalagi terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan.
Titik balik hidupnya dimulai pada tahun 2023, ketika organisasi Garamin NTT melanjutkan program SOLIDER yang dikembangkan oleh SIGAB Indonesia yang didukung oleh Program INKLUSI mulai membentuk kelompok disabilitas di desanya. Awalnya, keraguan besar menggelayuti benak Arion. “Apakah saya akan diterima? Apakah kelompok ini benar-benar membawa manfaat?” tanyanya dalam hati. Namun, seiring intensitas interaksi yang meningkat, keraguan itu perlahan luntur. Di kelompok tersebut, Arion menemukan sesuatu yang selama ini hilang: rasa kebersamaan, dukungan emosional, dan motivasi untuk berkembang bersama sesama anggota penyandang disabilitas.
Pintu peluang terbuka semakin lebar saat Arion mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan mengelas yang diselenggarakan oleh Dinas dinas ketenagakerjaan Kabupaten Rote Ndao pada 3 hingga 11 September 2026. Melalui dukungan Project Officer Garamin NTT, Alfred A. Fafo, Arion menjalani pelatihan intensif selama sepuluh hari. Di sana, ia bertemu dengan lingkungan yang inklusif dan suportif. Pengalaman ini bagaikan matahari yang menyeruak di balik awan mendung; Arion mulai melihat terang dalam kemampuan dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa keterampilannya bukan sekadar warisan, melainkan kekuatan yang patut dibanggakan.
“Setelah pelatihan ini, saya berkomitmen untuk terus mengasah kemampuan dan mencari pengalaman kerja yang lebih luas. Impian saya adalah membuka usaha las sendiri,” ungkap Arion dengan penuh optimisme.
Perubahan itu kini terlihat nyata. Arion tidak lagi bersembunyi di balik gubuk sederhananya. Ia mulai berani memperkenalkan hasil karya pandai besinya kepada masyarakat luas, berdiskusi dengan pelanggan, dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Kepercayaan dirinya tumbuh subur seiring dengan apresiasi yang ia terima. Ia menyadari sebuah filosofi mendalam: bahwa sungai harus mengalir hingga ke laut untuk menyadari jati dirinya, selama airnya tetap memberi kehidupan bagi sekitarnya.
Kini, Arion Landak telah menjelma menjadi sosok inspiratif. Ia tidak lagi minder, melainkan tampil sebagai pribadi yang percaya diri, mampu berbicara di depan publik, dan menjadi teladan bagi rekan-rekan penyandang disabilitas lainnya. Baginya, pelangi kini telah membentang setelah hujan keraguan yang panjang.
Kepada sesama rekan disabilitas, Arion menitipkan pesan penyemangat: “Jangan pernah ragu untuk bermimpi dan meraih tujuan. Setiap langkah kecil yang kita ambil adalah kemajuan yang sangat berarti. Teruslah belajar, percaya pada kemampuan diri, dan jangan pernah takut untuk mencoba hal-hal baru. Bersinarlah tanpa harus malu dengan keterbatasan yang dimiliki.”
