GARAMIN dalam Mendorong Praktik Inklusi Disabilitas melalui Program MATAHATI

Pelatihan peningkatan kapasitas bagi Vocal Point Disabilitas dari masing-masing Mitra Konsorsium MATAHATI

Dalam praktik pembangunan di tingkat desa dan layanan dasar, isu inklusi disabilitas belum selalu menjadi perhatian utama. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan, perspektif aksesibilitas dan partisipasi bermakna penyandang disabilitas masih menghadapi tantangan untuk terintegrasi secara konsisten dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan.

Dalam konteks tersebut, Program MATAHATI menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat praktik pembangunan yang lebih inklusif. Melalui keterlibatannya dalam program ini, GARAMIN NTT berperan sebagai konsultan inklusi disabilitas yang mendukung penguatan kapasitas mitra konsorsium, pendampingan teknis di desa dan sekolah, serta pengembangan pengetahuan bersama tentang inklusi disabilitas berbasis hak asasi manusia. Proses pendampingan ini tidak hanya menghasilkan berbagai aktivitas, tetapi juga mendorong perubahan bertahap pada tingkat sikap, sistem, dan praktik pembangunan.

Salah satu perubahan penting terlihat dalam meningkatnya pemahaman mitra dan pemangku kepentingan Desa mengenai konsep disabilitas dan inklusi. Melalui diskusi, lokakarya, serta proses penyusunan Panduan Inklusi Disabilitas yang melibatkan konsultasi dengan beragam penyandang disabilitas dan mitra konsorsium, terbangun pemahaman bersama bahwa inklusi bukanlah program tambahan, melainkan prinsip dasar dalam pembangunan. Panduan ini menegaskan hak penyandang disabilitas untuk berpartisipasi, berkontribusi, dan terlibat secara bermakna dalam pengambilan keputusan di Desa. Dalam proses konsultasi dan finalisasi buku panduan serta buku saku inklusi disabilitas, perhatian juga diberikan pada cara pengetahuan diproduksi dan dibagikan agar lebih mudah diakses. Penggunaan bahasa yang sederhana, visual yang mudah dipahami, serta format yang ramah pengguna membuat materi inklusi disabilitas semakin dekat dengan masyarakat desa. Dampaknya mulai terlihat dari meningkatnya kesadaran perangkat desa untuk melibatkan penyandang disabilitas dalam musyawarah desa, serta munculnya jejaring disabilitas di tingkat desa sebagai ruang solidaritas dan advokasi bersama. Distribusi buku saku kepada mitra dan desa dampingan menjadi langkah konkret untuk memastikan bahwa pengetahuan tentang inklusi disabilitas tidak berhenti di tingkat konsultan atau organisasi, tetapi digunakan secara nyata di lapangan.

Sosialisasi Inklusi disabilitas bagi masyarakat di desa Oelbanu

Perubahan juga tampak pada praktik pembangunan infrastruktur ramah disabilitas, khususnya di sekolah-sekolah ASIK (Aman,Sehat,Inklusif) dan lingkungan Desa. Dalam proses pendampingan, GARAMIN bersama mitra terlibat sejak tahap asesmen awal aksesibilitas, perencanaan, hingga pemantauan pelaksanaan dan peresmian infrastruktur. Pada tahap awal, aksesibilitas seringkali dipahami sebatas penyediaan bidang miring, tanpa mempertimbangkan standar kemiringan, aspek keamanan, dan kenyamanan pengguna. Melalui asesmen aksesibilitas dan pendampingan lapangan yang berkelanjutan, GARAMIN bersama mitra memberikan masukan teknis terhadap berbagai akses yang akan dibangun namun belum sepenuhnya sesuai standar, seperti kemiringan bidang miring yang belum aman, ketiadaan handrail, serta permukaan lantai yang licin. Praktik pendampingan ini mendorong perubahan cara pandang dalam pembangunan, di mana aksesibilitas dipahami sebagai upaya yang harus berbasis pada kebutuhan penyandang disabilitas dan dapat digunakan secara aman oleh semua orang. Dengan demikian, kualitas dan keamanan menjadi prioritas utama, bukan sekadar penyelesaian fisik proyek.

Di tingkat konsorsium, perubahan juga terlihat dalam cara refleksi dan pembelajaran program. Melalui kegiatan replanning dan refleksi bersama, berbagai capaian, tantangan, serta strategi keberlanjutan Program MATAHATI diidentifikasi secara kolektif. Proses ini mendorong mitra untuk lebih serius mendokumentasikan praktik baik, dan mengonsolidasikan data penyandang disabilitas. Salah satu hasil refleksi penting adalah meningkatnya kesadaran bahwa upaya advokasi inklusi perlu diperluas dari tingkat desa ke tingkat kabupaten, sehingga perubahan yang dihasilkan dapat berdampak lebih sistemik dan berkelanjutan.

Secara keseluruhan, perubahan yang didorong GARAMIN dalam Program MATAHATI tidak hanya terlihat pada output kegiatan, tetapi pada pergeseran pola pikir: dari belas kasihan menuju hak, dari formalitas menuju partisipasi bermakna, dan dari pembangunan seragam menuju pembangunan yang menghargai keberagaman kebutuhan manusia. Perjalanan ini masih menghadapi tantangan, seperti keterbatasan data terpilah dan akses wilayah yang sulit, namun fondasi perubahan telah terbentuk. Dan tantangan tersebut tak memadamkan api semangat konsorsium MATAHATI dalam mendukung pembangunan inklusif di Kabupaten Kupang.

Diskusi bersama teman-teman organisasi disabilitas lainnya untuk pembuatan buku panduan Inklusi Disabilitas

Author : Dinna Noach & Yomi Radja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *