Eko Imauel Manu. Saya seorang laki-laki berusia 28 tahun yang berasal dari suku Timor dan memeluk agama Kristen Protestan. Saat ini, saya tinggal di Desa Baumata Timur, belum menikah, dan keseharian saya diisi dengan menjaga kios milik keluarga.
Sebuah kecelakaan lalu lintas pada tanggal 29 September 2016 mengubah hidup saya. Peristiwa itu mengakibatkan kaki kanan saya patah, dan sejak saat itulah saya hidup sebagai seorang penyandang disabilitas fisik.
Sebelum adanya GARAMIN NTT melanjutkan program SOLIDER (Memperkuat Inklusi Sosial untuk Kesetaraan dan Hak-hak Disabilitas),yang dikembangkan oleh SIGAB Indonesia yang didukung oleh Program INKLUSI, kehidupan penyandang disabilitas di Desa Baumata Timur sangat memprihatinkan. Perhatian terhadap difabel sangat minim, bahkan difabel merasa tersisih di tengah masyarakat. Difabel tidak pernah dilibatkan dalam organisasi kemasyarakatan maupun kegiatan pemerintahan, seolah keberadaan difabel tidak dianggap penting.
Mirisnya, stigma di masyarakat saat itu masih sangat kuat. Difabel sering kali dipanggil dengan sebutan yang merendahkan, seperti “cacat”, “amaunut”, “apekot”, atau “pincang”.
Perubahan mulai terasa ketika terbentuk sebuah organisasi bernama Melalui program Solider SOLIDER (Memperkuat Inklusi Sosial untuk Kesetaraan dan Hak-hak Disabilitas) yang didampingi oleh Sigab Indonesia -INKLUSI melalui GARAMIN yang secara khusus memberikan pendampingan bagi difabel. Program pertama yang digulirkan adalah pendataan difabel di desa Baumata Timur. Saya pun terlibat aktif dalam proses pendataan ini menggunakan aplikasi Cobocollect.
Tentu saja ada banyak tantangan. Saya harus melewati jalanan yang rusak dan sulit dilalui dengan kondisi fisik saya, namun syukurlah saya selalu ditemani oleh seorang teman. Tantangan lain datang saat berinteraksi dengan teman-teman disabilitas mental; komunikasi terkadang lancar, terkadang tidak. Untungnya, difabel psikososial ini didampingi oleh keluarga. Selain itu, tidak semua orang mudah ditemui. Ada yang sibuk berkebun atau menghadiri acara pesta, sehingga saya harus kembali lagi keesokan harinya untuk menyelesaikan pendataan.
Melalui keterlibatan di KDD, saya mulai memahami bahwa difabel, memiliki kedudukan yang setara dengan warga masyarakat lainnya. Perlahan, saya mulai berani tampil di depan umum tanpa rasa minder dan belajar untuk bertanggung jawab atas setiap peran yang diberikan dalam organisasi.
Perubahan positif juga datang dari pemerintah desa. Perhatian pemerintah desa mulai terfokus pada difabel. Difabel mulai dilibatkan dalam forum-forum penting seperti Musyawarah Desa (Musdes), Musyawarah Dusun (Musdus), hingga Musyawarah rencana pembangunan kecamatan (renbangcam). Nama difabel juga terdata sebagai penerima bantuan dari Kementerian Sosial dan Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD).
Dukungan administrasi pun diberikan. Pemerintah desa menghadirkan petugas Dukcapil secara khusus untuk melakukan perekaman e-KTP bagi seluruh difabel yang belum memiliki data kependudukan lengkap. Selain itu, difabel juga mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan rutin
Saya juga pernah menerima beberapa program bantuan untuk meningkatkan kemandirian ekonomi, meskipun tidak semuanya berjalan mulus. Bantuan 6 ekor Ayam KUB akhirnya mati karena virus, dan 20 ekor bibit lele hasil pelatihan dari Balai latihan kerja (BLK) juga tidak berkembang akibat kanibalisme atau memakan sesama ikan.
Namun, pada bulan novembetr 2024, bantuan Tenaga Kerja Mandiri (TKM) sebesar Rp.5.000.000 (lima juta) yang di bantu poleh Unit Layanan Disabilitas (ULD) Ketenagakerjaan memberikan dampak yang sangat signifikan. Dana tersebut saya gunakan untuk menambah modal usaha kios dan membeli ternak babi, yang hasilnya sangat membantu menopang perekonomian keluarga saya.
Seiring berjalannya waktu, masyarakat di sekitar kami mulai belajar menerima keberadaan difabel. Pemerintah dan masyarakat mulai menghargai dan memperlakukan difabel secara normal tanpa pembedaan. Panggilan-panggilan yang merendahkan itu pun perlahan hilang.
Dari pengalaman ini, saya menyimpulkan bahwa program pendampingan seperti ini (Program Solider) membawa dampak yang luar biasa positif bagi difabel. Perubahan di tingkat masyarakat dan pemerintah terjadi begitu cepat karena difabel akhirnya mendapatkan perlakuan yang adil.
Saya berharap GARAMIN NTT melanjutkan program SOLIDER (Memperkuat Inklusi Sosial untuk Kesetaraan dan Hak-hak Disabilitas),yang dikembangkan oleh SIGAB Indonesia yang didukung oleh Program INKLUSI ini terus berlanjut hingga kami mencapai kemajuan yang lebih besar, tidak hanya berhenti pada penetapan Peraturan Desa (Perdes) Inklusi yang saat ini prosesnya sudah sampai di bagian hukum. Semoga pendampingan terus berjalan, didukung oleh sosialisasi yang berkelanjutan dari pemerintah mengenai isu disabilitas, agar desa kami dapat menjadi contoh positif bagi desa-desa lainnya.
Untuk semua teman-teman difabel Desa Baumata Timur, mari kita terus semangat memperjuangkan hak-hak kita. Lawan segala bentuk diskriminasi dengan cara menunjukkan bahwa kita mampu membawa manfaat positif bagi lingkungan sekitar.
Author : Elmi Ismau
