Selama bertahun-tahun, Kelompok Difabel Desa (KDD) Oelomin selalu berusaha menyampaikan kebutuhan dan usulan mereka dalam Musyawarah Desa. Mereka berharap Pemerintah Desa dapat memberikan dukungan untuk meningkatkan keterampilan dan membuka peluang usaha bagi anggota kelompok. Salah satu usulan yang terus diperjuangkan adalah pelatihan pembuatan minyak Virgin Coconut Oil (VCO) sekaligus penyediaan peralatan produksi.
Usulan tersebut sebenarnya telah disampaikan oleh KDD sejak tahun 2022 melalui musyawarah di desa. Namun, usulan tersebut belum dapat direalisasikan karena masih harus melalui proses perengkingan dan bersaing dengan berbagai usulan pembangunan lainnya. Menurut Pemerintah Desa Oelomin, masih terdapat sejumlah usulan dari kelompok difabel yang belum masuk dalam perengkingan sehingga belum dapat dianggarkan. Selain itu, Kepala Desa yang saat ini menjabat baru mulai bertugas sejak tahun 2024, sehingga proses merealisasikan usulan-usulan yang telah disampaikan sebelumnya membutuhkan waktu. Sebelumnya, Pemerintah Desa memang pernah membagikan beberapa peralatan pembuatan VCO ke setiap dusun. Namun, KDD mengalami kesulitan mengakses peralatan tersebut karena penggunaannya dilakukan secara bersama. Peralatan tidak selalu tersedia ketika anggota KDD ingin belajar atau memproduksi VCO. Kondisi ini membuat kesempatan anggota kelompok untuk mengembangkan keterampilan dan memulai usaha VCO menjadi terbatas.
Perubahan mulai terlihat sejak Program SOLIDER melakukan pendampingan di Kabupaten Kupang. Melalui berbagai proses pendampingan, KDD Oelomin semakin percaya diri untuk menyampaikan aspirasi dan kebutuhan mereka kepada Pemerintah Desa. Mereka juga mulai memahami bahwa keterlibatan dalam Musyawarah Desa bukan hanya kesempatan untuk hadir, tetapi merupakan ruang bagi mereka untuk memperjuangkan kebutuhan dan memastikan penyandang disabilitas mendapatkan manfaat dari pembangunan desa.
Upaya tersebut akhirnya mulai membuahkan hasil. Pada tahun 2026, melalui pencairan Dana Desa Tahap I, Pemerintah Desa Oelomin merealisasikan salah satu usulan KDD yang telah diperjuangkan sejak tahun-tahun sebelumnya. Dukungan tersebut berupa pelatihan pembuatan minyak VCO dan penyediaan peralatan produksi, dengan anggaran sekitar Rp6.000.000. Bantuan ini merupakan hasil dari usulan KDD yang disampaikan melalui Musyawarah Desa, bukan program yang diberikan tanpa melalui proses partisipasi kelompok. Untuk memastikan pelatihan berjalan dengan baik, Pemerintah Desa juga berkolaborasi dengan PKK Desa Oelomin. Kolaborasi ini dilakukan karena anggota PKK sebelumnya telah mendapatkan pelatihan pembuatan VCO dan telah berhasil memproduksi serta memasarkan VCO. Pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk ditularkan kepada anggota KDD, sehingga proses belajar tidak dimulai dari nol.
Pelatihan pembuatan VCO dilaksanakan pada 17–18 Juni 2026 di rumah salah seorang anggota difabel. Kegiatan tersebut diikuti oleh 14 orang, terdiri dari 3 laki-laki difabel, 7 perempuan difabel, dan 4 perempuan non-difabel. Komposisi peserta tersebut menunjukkan bahwa kegiatan tidak hanya melibatkan penyandang disabilitas, tetapi juga membuka ruang kolaborasi antara perempuan difabel, laki-laki difabel, dan perempuan non-difabel dalam proses peningkatan keterampilan dan pengembangan usaha.
Bagi KDD Oelomin, pelatihan ini menjadi pengalaman baru. Mereka mulai belajar mengolah kelapa menjadi minyak VCO dengan menggunakan peralatan yang kini dapat mereka akses secara lebih langsung. Namun, proses tersebut tidak selalu berjalan mudah. Karena baru pertama kali mencoba membuat VCO secara mandiri, anggota KDD masih belum sepenuhnya menguasai teknik pembuatannya. Mereka bahkan sempat mengalami satu kali kegagalan dalam proses produksi. Meski demikian, kegagalan tersebut menjadi bagian dari proses belajar dan mendorong anggota kelompok untuk terus mencoba memperbaiki teknik produksi mereka.
Perlahan hasil belajar tersebut mulai menunjukkan perkembangan. Setelah pelatihan, KDD telah dua kali melakukan penjualan VCO. Pada produksi pertama, mereka berhasil menghasilkan 3 botol, sedangkan pada produksi kedua meningkat menjadi 8 botol. Setiap botol VCO dijual dengan harga sekitar Rp30.000. Untuk saat ini, pembeli masih berasal dari masyarakat Desa Oelomin dan jaringan kenalan anggota KDD. Meskipun skala produksinya masih kecil, pengalaman tersebut memberikan makna penting bagi anggota kelompok. Mereka tidak lagi hanya menjadi penerima bantuan, tetapi mulai memiliki kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan, menghasilkan produk, dan mencoba memasarkannya. Peralatan yang diberikan juga menjadi aset penting bagi kelompok untuk terus belajar dan mengembangkan produksi tanpa harus bergantung pada peralatan yang digunakan bersama di tingkat dusun.
Perubahan yang dirasakan KDD tidak hanya terlihat dari jumlah botol VCO yang berhasil diproduksi dan dijual. Perubahan yang lebih penting adalah tumbuhnya keyakinan bahwa usulan mereka dapat didengar dan diperjuangkan hingga menjadi bagian dari pembangunan desa. Usulan yang selama beberapa tahun belum terealisasi akhirnya mendapatkan ruang dalam penganggaran Dana Desa. Hal ini memberikan semangat baru bagi KDD untuk terus terlibat dalam Musyawarah Desa dan menyampaikan kebutuhan mereka secara lebih percaya diri.
Dari sisi Pemerintah Desa, dukungan tersebut juga menunjukkan adanya komitmen untuk memberikan ruang bagi kelompok difabel dalam mengembangkan potensi ekonomi. Pemerintah Desa berharap peralatan yang telah diberikan tidak berhenti sebagai bantuan, tetapi dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh KDD untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan ekonomi anggotanya. Ke depan, tantangan KDD adalah meningkatkan kemampuan teknis dalam memproduksi VCO, menjaga kualitas produk, memperluas pemasaran, serta memastikan peralatan yang telah diberikan dapat dikelola dan dimanfaatkan secara berkelanjutan. Kegagalan yang pernah dialami dalam produksi pertama menjadi pembelajaran bahwa pengembangan usaha membutuhkan proses, pendampingan, dan latihan yang terus-menerus.
Cerita KDD Oelomin menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu terjadi dengan cepat. Sebuah usulan yang disampaikan sejak 2022 baru dapat diwujudkan pada 2026. Namun, proses tersebut menunjukkan bahwa ketika kelompok difabel memiliki keberanian untuk menyampaikan aspirasi, mendapatkan pendampingan untuk memperkuat partisipasi, dan bertemu dengan Pemerintah Desa yang membuka ruang bagi pembangunan inklusif, sebuah usulan yang sebelumnya terabaikan dapat berubah menjadi kesempatan nyata. Bagi KDD Oelomin, VCO bukan sekadar produk baru. VCO menjadi simbol bahwa suara mereka mulai diperhitungkan, keterampilan mereka dapat dikembangkan, dan mereka memiliki kesempatan untuk berkontribusi dalam perekonomian desa. Dari sebuah usulan yang selama bertahun-tahun belum menjadi prioritas, kini telah tumbuh sebuah kesempatan bagi anggota difabel untuk belajar, mencoba, memproduksi, menjual, dan perlahan membangun kemandirian ekonomi mereka.
Author : Liani Nainatun
